Showing posts with label Suara Hati. Show all posts
Showing posts with label Suara Hati. Show all posts

Dua hari yang lalu, seorang sahabat memintaku untuk menganalisis sebuah kasus, yaitu seseorang yang tidak dapat pekerjaan, kemudian ia mulai marah-marah dan menyalahkan orang lain dan lingkungan sekitarnya akan kegagalannya tersebut. Sahabatku ini memintaku untuk mengkajinya dari sisi filsafat. Jujur, aku tak tau bagaimana mengkaji sesuatu itu dari sisi filsafat karena aku tidak pernah kuliah filsafat.

Seiring berjalannya waktu, kasus beliau itu mengingatkan ku akan sebuah kisah seorang pengusaha sukses dan motivator handal Indonesia “Andrie Wongso”. Secara akademis, beliau mungkin kita sebut “gagal”, karena dia tidak pernah mengecap dunia perguruan tinggi, bahkan SD saja tidak tamat.


Berbagai usaha telah dilakukannya mulai dari sebagai pedagang keliling, salesman, bahkan artis film laga di Taiwan. Hambatan demi hambatan yang dilaluinya tak membuat dia merasa gagal, karena dia selalu berkeyakinan bahwa walaupun dia belum memperoleh keberhasilan dalam kebebasan finansial, namun dirinya sukses secara mental dalam memperjuangkan impian menjadi kenyataan. Keyakinan akan sebuah kesuksesan, kemampuan personalnya yang mudah bergaul dan kreatifitaslah yang dikemudian hari membawa kesuksesan pada Andrie.
Kesuksesannya berawal dari kegemarannya menuangkan tulisannya dalam bentuk kata-kata mutiara di buku hariannya. Saat salah seorang teman kos mencontek kata-kata yang dibuatnya, dari situlah muncul ide membuat kartu ucapan kata-kata mutiara, dengan tujuan selain untuk memotivasi diri sendiri, juga untuk membantu memotivasi orang lain melalui kartu ucapan. Dibantu oleh kekasih yang saat ini telah menjadi istrinya, Andrie memulai bisnis membuat kartu dengan merk HARVEST, yang di kemudian hari, usaha ini mengukuhkan Andrie sebagai raja kartu ucapan.


Dari kisah tersebut dapat kita simpulkan bahwa kesuksesan atau keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh latar belakang pendidikan yang mereka miliki, tapi tanpa dengan adanya keseimbangan antara EQ (Emotional Quotient/aspek emosi), SQ (Spiritual Quotient/aspek religius) dan kelebihan IQ (intelectual quotient/aspek kecerdasan) tidak akan membawa hasil yang maksimal dalam kehidupan dan untuk mencapai sebuah keberhasilan serta kesuksesan.
Orang dengan IQ tinggi CERDAS menganalisa masalah teknis, EQ tinggi ditandai dengan kemampuan mengelola non-teknis, dan SQ tinggi ditandai dengan menyeimbangkan kebutuhan DUNIA-AKHIRAT. Jika salah satu diunggulkan, maka potensi yang lainnya akan dinomor duakan dan akibatnya, ketika ketiga faktor tersebut tidak memperoleh muatan perhatian yang sama. Hal ini dapat menyebabkan timbulnya berbagai macam masalah serius, seperti jika lebih menonjolkan IQ dibandingkan yang lainnya, maka ia akan kehilangan kearifannya, contoh seperti Hitler. Jika lebih menonjolkan SQ dibandingkan yang lainnya, maka ia menjadi fanatik, ekstrim, seperti halnya banyak kejadian Jihad bom bunuh diri yang marak terjadi beberapa tahun belakangan ini. Dan jika lebih menonjolkan EQ dibandingkan yang lainnya, maka ia pandai merayu, menipu, dan lain sebagainya.


Pendapat di atas juga diperkuat oleh Ary Ginanjar dalam buku ESQ-nya, bahwa banyak orang yang menyangka makna kehidupan bisa diraih melalui materi, namun sebenarnya, makna yang paling penting dan bernilai, justru terletak pada aspek spiritualnya, dimana dalam pencapaiaannya, IQ,EQ,dan ESQ harus mempunyai keseimbangan. Intinya jika manusia mengenal dirinya sendiri secara spiritual maka ia akan juga mengenal Tuhannya. Pada saat itulah terjadi perubahan energi spiritual dan juga perubahan cara pandang dan cara berfikir kita sebagai manusia. Hal ini akan mempengaruhi keselarasan hidup manusia dalam kehidupan sehari-hari dalam mencapai sebuah keberhasilan. Jadi seseorang yang mempunyai kelebihan dalan IQ dan EQ tidak selalu berhasil dalam hidupnya tanpa diimbangi oleh SQ tersebut dan tidak menutup kemungkinan bahwa orang yang berpendidikan tinggi tidak selalu berhasil dalam kehidupan sosial dan dunia kerjanya.


Di Era global, kita dituntut untuk memiliki mindset global yaitu memiliki kerangka berpikir global yang mampu mengantisipasi tuntutan global. SDM yang mempunyai Minset global tersebut mampu mengintegrasikan fungsi lima kecerdasan (IQ, EQ,SQ, MQ dan AQ). Artinya, kita tidak hanya cerdas intelektual (IQ) saja, tetapi pula cerdas bertindak bijaksana(EQ), cerdas mematuhi nilai-nilai, norma dan peraturan yang berlaku(SQ), memiliki tanggung jawab moral (MQ) dan cerdas untuk selalu bangkit dan berjuang keras dalam mencapai tujuan (AQ). Kemampuan mengintegrasikan lima kecerdasan tersebut akan membentuk pribadi yang dewasa mental (maturity personality).

Analisa Tokoh: tidak dapat menerima kenyataan akan kegagalannya dan melampiaskannya dengan cara menyalahkan orang lain/lingkungan.


Sistem pendidikan, sudah lama merupakan faktor yang disebut-sebut sebagai penyebab utama dari timbulnya perkembangan karakter diri yang tidak utuh. Sudah betulkah pernyataan ini? Selanjutnya jika dilihat berdasar penelitian psikologi, dua faktor utama penyumbang terjadinya problematika bisa berasal dari nurture (lingkungan) dan nature (faktor bawaan). Sebagaimana kita tahu, dalam hidup di dunia kita tidak pernah sendirian. Kita selalu dimungkinkan bahkan diharuskan berhubungan dengan orang lain, dimana kemudian, segala peristiwa, baik yang menggembirakan maupun menyulitkan bisa saja terjadi. Berbagai macam kejadian, mempengaruhi diri kita, dari sejak kita tumbuh besar, maupun sampai saat ini.
Secara general, kegagalan dan pembawaan yang pemarah yang diperlihatkan oleh tokoh tersebut terjadi akibat terjadinya kesenjangan salah satu dari ketiga potensi di atas, terutama dalam aspek EQ. Disamping sistem pendidikan formal kita yang saat ini sangat menekankan akan keberhasilan peserta didik dari segi aspek IQ, faktor pendidikan keluarga juga sangat berpengaruh terhadap problem solving seorang insan dikemudian harinya. Berikut adalah sebuah kutipan dari karya Dorothy yang sangat saya suka dan mungkin perlu kita cermati;


Anak-anak belajar dari pengalaman
Jika seorang anak hidup dalam kritikan,
Maka ia belajar untuk mencari kesalahan orang lain.
Jika seorang anak hidup dalam pujian, maka ia belajar menghargai.
Jika seorang anak hidup dalam kekerasan, maka ia belajar untuk jadi jagoan berkelahi.
Jika seorang anak hidup dalam sikap toleransi, maka ia bersikap sabar.
Jika seorang anak hidup dalam ejekan, maka ia belajar menjadi pemalu.
Jika seorang anak hidup dengan sikap menerima, maka ia belajar menyukai diri sendiri.
Jika seorang anak hidup dalam keadilan, maka ia belajar obyektif.
Jika seorang anak hidup dengan perasaan diterima dan bersahabat,
Maka ia belajar untuk memberikan cintanya pada dunia



Di dalam hidup ini, suatu yang sangat umum dan wajar terjadi, bila pada suatu saat, hati kita bisa terluka oleh perkataan atau perbuatan orang lain. Bukan suatu yang mustahil terjadi, pada suatu saat, lingkungan memberikan kepada kita seperangkat pandangan hidup yang berisikan hal-hal yang kurang positif. Semakin kuat konsep diri-prioritas-paradigma keliru tertanam, maka filter kita dalam memandang segala permasalahan, akan semakin jauh dari kebenaran. Akibatnya, bukan saja dalam hidup kita tak mampu melangkah ringan, tetapi yang lebih parah lagi, kita tidak pernah menyadari, bahwa diri kita mempunyai begitu banyak potensi yang terpendam!



DAFTAR BACAAN
Agustian, Ary Ginanjar. 2006. Rahasia sukses membangkitkan ESQ power : sebuah inner journey melalui al-Ihsan. Jakarta;ARGA
Mangkunegara, A.A.Anwar Prabu. Tth. Aspek-Aspek Psikologi Dalam Sukses Karier. Makalah
http://id.wikipedia.org/wiki/Andrie_Wongso
Readmore »»

Cooooooooooool……………….
Dingin banget disini!
Saya nyampe di bandara internasional "Khomeini-Teheran" jam 15.45 (GMT+3.30). Dingin banget, kota Bukittinggi dan Batu aja kalah. 8 derajad bo! Setelah melewati bagian imigrasi yang ternyata tidak terlalu keras, saya turun ke bagian klaim bagasi. Saya agak kaget, karena mereka re-check bagasi kita beberapa kali, kayaknya gak percaya dengan x-ray di Malaysia kali ya. Saya pikir bagus juga pengamanan mereka. Tidak ada yang special dengan bandaranya, besar, tapi sayangnya sangat gersang sekali, mungin karena sekarang winter.




Di luar ternyata Prof. Taghi Kayamiyan telah menunggu dengan wajah ceria dan banyak tawanya, beliau terlihat lebih muda dibandingkan dengan terakhir kita bertemu 1 tahun yang lalu di Jakarta. Oh ya, saya lupa cerita kalau ke sini (Iran) atas undangan Prof. Taghi (Isfahan University of Technology) sebagai invited lecture pada “Bioinformatics Workshop For Vaccine Design”. Workshop akan dilaksanakan selama 3 hari. Dari rancangan yang saya buat sih dari jam 8 pagi - 3 siang, tapi mungkin ada perubahan dari Prof. Taghi.

Dari Teheran, kita menuju kota Isfahan yang lumayan jauh dari kota Teheran (+ 4 jam perjalanan). Selama di perjalanan, prof. Taghi bercerita banyak mengenai penelitiannya akhir2 ini, tapi sepertinya saat itu saya masih jetlag dan sedang tidak tertarik dengan pembicaraan serius mengenai penelitian dll. Saya melihat di sekeliling kami hanya hampararan pasir, gunung batu, tanpa ada tanaman, gersang. Walaupun ada beberapa gunung yang bagian ujungnya terkumpul es, tapi humiditasnya sangat rendah.



Percakapan mulai menarik saat Prof. Taghi bercerita mengenai perekonomian masyarakat di sana, politik, sosial budaya. Saya baru tau kalau Iran penghasil gas kedua terbesar di dunia setelah Rusia. Itu sebabnya mobil disana pada umumnya menggunakan CNG (Compress Natural Gas), tapi walaupun harganya murah, pemerintah menjatahkan maksimal 40 L/bulan menggunakan sistem kupon.

Satu hal yang membuat saya kaget, masih sangat banyak penduduk miskin di negara minyak tersebut. Tuhan itu maha adil, buat kita “mungkin” minyak bumi adalah sesuatu yang mahal, namun kita kelebihan air. Tapi Iran? Mereka beli air sama mahalnya dengan kita beli minyak.

Dalam perjalanan menuju Isfahan, kita melewati suatu kota yang bernama “QOM”. Kota ini merupakan kota santrinya Iran. Disini jugalah tinggal para ahli agama. Repubic Islamic of Iran. Dari kata republiknya sih awalnya saya menyimpulkan bahwa sistem pemerintahannya ga jauh-jauh beda dengan Indonesia, namun ada beberapa perbedaan pada pengambilan keputusan. Untuk menjalankan pemerintahan sehari-hari, keputusan terletak di tangan presiden, tapi jika masalah tersebut tergolong kepada penyelesaian masalah eksistensi dan keutuhan bangsa (seperti masalah pengembangan nuklir), presiden harus berunding dengan Imam dan keputusan tersebut bisaanya diputuskan oleh Imam walaupun yang mengumumkannya tetap presiden. Hal ini berbeda dengan DPA (Dewan Pertimbangan Agung) yang hanya memberikan nasehat kepada presiden tapi tidak bisa memutuskan. Imam pertamanya bernama Imam Khomeini, dan sekarang adalah masa pemerintahan Imam kedua (setelah Khomeini). Sayangnya saya lupa nama beliau. Nah lho…. Apa hubungannya antara pemerintah dengan Qom? Imam merupakan orang saleh yang dipilih melalui seleksi dan kriteria tertentu. Calon Imam ini tinggal di Qom.

Wah, capek juga perjalanan 4 jam di jalan yang gersang. Ngantuk....tuk...tuk....
Readmore »»


Pohon pisang sepintas terlihat hanya pohon biasa yang tidak mempunyai kelebihan yang dapat menarik perhatian kita. But in case of my experience, the growing’s philosophy of this plan make me strong.
Why? Selama proses pertumbuhannya, jika ia ditebang sampai putus batangnya, maka ia akan tumbuh lagi persis dari pusat batangnya. Tak peduli berapa kali ia dibabat batangnya sampai putus sekalipun, ia tetap tumbuh dan tumbuh lagi sampai dewasa dan berbuah. Hal ini memberikan inspirasi buat saya untuk tetap berfikir positif bahwa saya akan bisa tetap tumbuh walaupun banyak aral melintang.




Below is the D -1 of my Journey to Iran

Apa yang akan terjadi tentu saja saya tidak tau, namun dibalik semua kesulitan yang telah terjadi ada beberapa sisi positifnya. Eventhough, sometimes I’ve gotten stress. “ But I Should have a positive thinking”

H-1 keberangkatan, malam (kira2 jam 8.30), saya mengambil laundry baju yang sudah diserahkan semenjak hari minggu. Tapi apa dinyana, pas saya ngambil laundy-annya (kamis malam), pegawai laundry bilang “ belum selesai mba, besok aja ambil”. Saya mencoba untuk bersabar, karena kalau saya marah, saya akan jadi panik. “ Ya udah, mana bajunya, biar tak setrika sendiri” ujarku dengan mulai gondok karena saya pikir mereka udah cuci tapi belum disetrika. Trus mereka bilang. “wah belum dicuci tuh mba”, saya langsung shock! Belum dicuci? Secara besok jam 3.30 subuh sudah harus berangkat ke bandara? Akhirnya saya pikir, ya udah bawa aja baju kotornya. Kan bisa nyuci kilat dan disetrika malam ini juga, tapi pas udah dicari, itu baju juga tidak ketemu. Tak tau wujudnya ada dimana!
Setahun bergaul dengan Prof. Usman membuat saya ketularan cara berfikirnya. Ada apa dengan keberangkatan besok?
Dengan pikiran yang coba dibuat positif, akhirnya saya menuju “Margo City Mall”, karena Yatmi telah menunggu. Akhirnya kami beli baju disana sambil beli oleh2 untuk yatmi bawa balik ke Padang besok.
Setiap saya melihat kebelakang, hati jadi was-was. Saat menemani yatmi mencari Dunkin Donut dan ATM malam itu, saya terkadang (gak tau Yatmi sadar atau tidak) mengambil rute terjauh, hanya karena ingin sedikit menentramkan hati nan gundah gulana. "Tuhan, kami tau kaulah maha penguasa atas takdir kami, tapi kumohon, ijinkanlah kami memberikan sedikit darma kami dan terus berkarya di muka bumimu ini" ujar ku sambil berdo'a.

Tik…tik…tik….
Jam menunjukkan pukul 1.30 malam, 2 jam sebelum waktu janjian dengan supir TAXI. Sambil mencoba untuk tetap terjaga, takut kebablasan, saya duduk dan memegang erat tangan Yatmi yang lagi dengan nikmatnya tidur, “give me a strength” . dan tak taunya, saya tertidur.
Jam 3.30 akang TAXI sudah ngetuk pintu. Kita ganti baju dan berangkat ke banadara. Alhamdulillah di bandara tidak ada kesulitan, sampai kami naik pesawat menuju Kuala Lumpur. Karena kurang tidur tadi malam, setelah take off saya langsung tertidur. Tapi ½ jam perjalanan, saya dikagetkan oleh goncangan pesawat yang sangat mengerikan. Ibarat kata “lebih hebat rasa ngilunya dibandingkan permainan halilintar di DUFAN”. Wah, ternyata ga jadi ngajak Yatmi ke DUFAN, saya di kasih life experience of dufan by Malaysia airlines. Saya mulai waspada, menajamkan telinga untuk mendengarkan suara mesin pesawat. It seems normal, both of these two machine work. I think!

Tak lama kemudian datang pramugara senior bertanya “ada yang ingin minum? ……” dan membuat beberapa joke dengan penumpang. Cara mereka cukup professional. Saya pikir ini adalah masalah cuaca karena cuaca sekarang sangat tidak bersahabat, namun teling saya cukup tajam utuk mendengar perkataan seorang pramugari cantik dan ayu pada temannya “ye nasib kite lah….. risiko…pokok nya penumpang tak bole pinta air panas la, ntar malah ......”. ga enak banget rasanya punya telinga yang sedikit tajam, in case of it.

15 menit kita berada dalam guncangan yang sangat hebat, pilotnya bilang” ladies and gentleman, because of the technical problem in our plane, we decide to land in Changi airport, Singapore, but please be patient, because we should permit to Singapore government first. It may take times about 30 minutes”.Gila….udah miring2, bolak-balik begini masih pake ijin2an!

Akhirnya kita bisa landing di CHANGI AIRPORT. Tak di sangka selama proses perbaikan pesawat (sekitar 2 jam2an), Sebegitu ngantuk dan tidak pedulinya saya tadi, saya baru sadar bahwa tepat di sisi kiri saya duduk artis “Bertran” dengan “mungkin” manager dan make up artisnya. Saat menoleh kebelakang, terlihat Bapak Hasyim Muzadi (ketua NU) sedang duduk dengan tenangnya, walaupun dia belum pernah ke Malaysia. Ini adalah kunjungan pertamanya ke Malaysia untuk menemui anaknya.

OK…!
Pesawat telah diperbaiki.
Kita berangkat ke Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Sesampai di KLIA, pesawat Iran Air telah berangkat. Tapi syukurnya saat melapor ke Malaysia airline, mereka bertindak sigap dengan membuat booking baru untuk mengganti tiket yang telah lewat dan memberikan penginapan karena pesawat berangkat jam 11.10 siang besok.
Tak tau apakah hal ini harus disyukuri atau tidak, tapi kaki ini berjalan menuju Concorde Inn Hotel yang tak jauh dari KLIA. Disini kita diperlakukan istimewa, karena semua fasilitas dibayarkan oleh pihak Malaysian airline, bahkan dapat jatah telpon 3 menit. Di Concorde inn, saya dapat AMT lagi. Berbeda halnya dengan AMT (Achievement Motivation Training) yang saya dapatkan di tahun 1999, AMT ini adalah Aku Makan Teratur, 4 sehat 5 sempurna, tapi “full of collesterol”.

Malam, setelah shalat magrib, bingung di hotel, akhirnya pergi ke bandara untuk melihat dimana besok harus check in, biar gak salah, karena bandaranya besar banget. Wah, ternyata di bandara rame banget. Ada acara lagi. Maklum, malam valetine, jadi ada operet “Song of love”. Berikut adalah beberapa foto di bandara malam itu.
Ini adalah salah satu warisan dari UKPIP/PPIPM yang tetap melekat di diri saya sampai saat ini. Let’s take a picture eventhough you are not a photogenic, yang penting begaya lah……
Smile……
Kehidupan, apapun dan dimanapun kita menjalaninya, pasti penuh cobaan, jatuh dan bangun, suka dan duka datang silih berganti, dan bahkan kadang kita mengalami kegagalan berkali-kali. Mengetahui fenomena "pohon pisang" ini, sudah seharusnyalah kita bisa sedikit belajar dari si pohon pisang ini. Sesering apapun kita gagal dan mengalami kesulitan, kita harus tetap tumbuh. Lagi…lagi … dan lagi. Bangkitlah dengan semangat yang lebih dahsyat. Tak peduli berapa kali kita ditebang oleh kegagalan. Sebanyak apa kita tumbang, maka sebanyak itu pulalah kita harus bangkit dan tumbuh lagi. Janganlah kita berhenti untuk tumbuh.
Kegagalan dan kesulitan yang kita alami adalah suatu pembelajaran untuk meraih keberhasilan yang lebih baik lagi. JIKA KITA TERMASUK ORANG-ORANG YANG INGIN MEMAKNAINYA.

I don’t know what will happen next, but I do realize that if I try to think possitvely and enjoy it. It will be good for me.
See you in the next story, and thanks for read my experiences.

Readmore »»
BERIKANLAH KADO TERINDAH UNTUK SAHABAT, TEMAN, REKAN SEJAWAT ANDA

Readmore »»